Breaking News
Loading...

Realita kesesatan syiah semakin terkuak dan membuat resah berbagai macam ormas islam. Ajarannya yang menyimpang, memunculkan perhatian serius dari para ulama di seantero dunia islam, tak terkecuali Indonesia.

Muhammadiyah yang merupakan salah satu ormas Islam besar di Indonesia juga member perhatian khusus kepada pergerakan syiah di Indonesia. Dalam sidang plenonya, Muhammadiyah telah mengeluarkan sikap yang berhubungan dengan kelompok yang masih mengaku sebagai madzhab dalam islam.

Di antara pernyataan resmi Muhammadiyah adalah sebagaimana disampaiakan oleh ketua PP Muhammadiyah yang membidangi Tarjih dan Tajdid, Prof. Dr. H Yunahar Ilyas, ia menyatakan bahwa bahwa;

Pertama: Muhammadiyah meyakini bahwa Nabi Muhammad saw yang ma’shum. Oleh sebab itu, Muhammadiyah menolak konsep kesucian Imam-imam (Ishmatul Aimmah) dalam ajaran Syiah.

Kedua: Muhammadiyah meyakini bahwa Nabi Muhammad saw tidak menunjuk siapa pun pengganti beliau sebagai Khalifah. Kekhalifahan setelah beliau diserahkan kepada musyawarah umat, jadi kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhum adalah sah. Oleh sebab itu, Muhammadiyah menolak konsep Rafidhahnya Syiah.

Ketiga: Muhammadiyah menghormati Ali bin Abi Thalib sebagaimana sahabat-sahabat yang lain, tetapi Muhammadiyah menolak kultus individu terhadap Ali bin Abi Thalib dan keturunannya.

Keempat: Syiah hanya menerima hadis dari jalur Ahlul Bait, ini berakibat ribuan hadis shahih –walaupun diriwayatkan Bukhari Muslim- ditolak oleh Syiah. Dengan demikian, banyak sekali perbedaan antara Syiah dan Ahlussunnah baik masalah Aqidah, Ibadah, Munakahat, dan lain-lainnya.

“Sikap tersebut hendaknya menjadi pedoman bagi warga Muhammadiyah khususnya dan umat Islam pada umumnya, sehingga dengan demikian kita bersikap waspada terhadap ajaran dan doktrin Syiah yang memang sangat berbeda dengan faham Ahlussunnah yang banyak dianut oleh mayoritas umat Islam Indonesia,” ungkap Ustadz Ustadz Agus Tri Sundani selaku kordinatoor Dakwah Khusus Majelis Tabligh PP. Muhammadiyah, sebagaimana dirilis dalam Majalah Tabligh No. 7/IX/ Jumadal Awal-Jumadil Akhir 1433 H, hal 5.

“Di samping itu, realitas, fakta dan kenyataan menunjukkan pada kita bahwa di mana suatu negara ada Syi’ah hampir dapat dipastikan terjadi konflik horizontal. Hal tersebut tentu harus menjadi perhatian kita semua jika ingin negara kesatuan Republik Indonesia tetap utuh dan ukhuwah Islamiyah tetap terjaga,” ungkapnya lagi lansir Nahimunkar, Ahad (9/2/2014).

Hendaknya pernyataan akan kesesatan syiah yang dilayangkan beberapa ormas besar di Indonesa seperti MUI, Muhammadiyah, NU dan lain sebagainya dapat membuka mata orang-orang beriman dalam memahami syiah. Bahwa ajarannya bukanlah berasal dari Nabi Muhammad, melainkan dari seorang yahudi munafik, Abdulloh bin Saba. Yang dengannya berakibat pada penyimpangan dan kesesatan dalam akidah, fikih bahkan muamalatnya.

(Nisyi/syiahindonesia.com)

0 comments: