Breaking News
Loading...

Sesuatu yang disepakati di kalangan kaum muslimin ialah bahwa Al-Qur’an adalah kitab samawi yang diturunkan dari sisi Allah kepada Nabi Muhammad bin Abdullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Tetapi ketika saya banyak membaca dan meneliti referensi-referensi kami yang mu’tabar (yang diakui), saya mendapatkan nama-nama kitab lain, yang diklaim oleh para ulama kami bahwa semuanya diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bahwa kitab-kitab tersebut dikhususkan untuk Amirul Mukminin. Kitab-kitab tersebut adalah sebagai berikut.

1. Al-Jami’ah:

Dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah, dia berkata, “Saya Muhammad, saya memiliki Al-Jami’ah. Tidaklah mereka mengetahui apakah Al-Jami’ah itu?

Dia berkata, “Al-Jami’ah adalah lembaran yang tingginya tujuh puluh hasta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia didiktekan dari ufuk, ditulis oleh Ali dengan tangan kanannya, di dalamnya dituliskan tentang halal haram serta segala sesuatu yang dibutuhkan manusia hingga tentnag diyat dalam cakaran… (Lihat: Al-Kafi, 1/239, dan Biharul Anwar, 26/22).

Ada riwayat-riwayat lain yang cukup banyak dalam kitab Al-Kafi, Al-Bihar, Bashair Ad-Darajat dan Wasail Asy-Syiah, tetapi saya hanya mencukupkan dengan menyebutkan satu riwayat untuk meringkas pembicaraan.

Saya tidak tahu apakah Al-Jami’ah itu benar-benar ada atau tidak ada? Di dalamnya terdapat semua yang dibutuhkan manusia hingga hari kiamat tentang halal, haram dan hukum-hukum yang lain? Apakah ini merupakan bentuk penyembunyian ilmu?

2. Shahifah An-Namus:

Dari Ar-Ridha ‘Alaihis salam tentang hadits tanda-tanda imam, dia berkata, “Dia memiliki shahifah (lembaran) yang di dalamnya terdapat nama-nama pengikut mereka hingga hari kiamat, juga shahifah yang di dalamnya nama-nama musuh mereka hingga hari kiamat. (Lihat: Biharul Anwar, 25/117, jilid ke-26, di dalamnya terdapat riwayat-riwayat lain).

Saya bertanya-tanya, shahifah apakah ini yang mencakup nama-nama orang syiah hingga hari kiamat? Kalaulah kami mencatat nama-nama orang syiahyang ada di Irak pada hari ini, niscaya kita akan membutuhkan minimal seratus jilid, maka bagaimana kalau kita mencatat nama-nama orang syiah di Iran, India, Pakistan, Suriah, Libanon negara-negara teluk dan lain-lain? Berapa jilid yang kita butuhkan untuk mencatat semua orang yang telah meninggal dari kalangan syiah sepanjang abad yang silam semenjak kamunculan paham syiah hingga zaman kita sekarang?

Berapa jilid buku yang kita butuhkan untuk mencatat nama-nama orang-orang syiah dari beberapa abad yang silam hingga hari kiamat?

Dan berapa jilid pula yang kita butuhkan untuk menuliskan musuh-musuh mereka semenjak kemunculan shahifah An-Namus hingga hari kiamat? Kalaulah laut dijadikan lembaran dan ditambahkan lagi tujuh lautan, tentu tidak akan cukup untuk menuliskan nama-nama yang sangat banyak ini.

Kalaulah kita mengumpulkan semua komputer dan alat-alat perekam dengan berbagai jenisnya, niscaya semuanya tidak akan mampu menghimpun angka yang spektakuler tersebut, bahkan mereka akan menyerah kalah di hadapan nama-nama tersebut.

Orang-orang awam tidak mungkin dapat menerima riwayat-riwayat tersebut, maka bagaimana mungkin dapat diterima oleh orang-orang yang pandai lagi terpelajar?

Sesuatu yang mustahil, para imam akan mengatakan suatu perkataan yang tidak dapat diterima oleh akal dan lagika. Kalaulah riwayat-riwayat tersebut diketahui oleh musuh-musuh kita, niscaya mereka akan mengatakan perkataan yang sangat ‘manis’, mereka akan menghina Islam, akan berbicara dan menyudutkan Islam sehingga terobatilah kebencian hati mereka. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

3. Shahifah Al-Abithah:

Dari Amirul Mukminin ‘Alaihis salam, dia berkata, “Demi Allah, sesungguhnya aku memiliki shahifah (lembaran wahyu) yang banyak sekali, yang merupakan bagian milik Rasulullah, keluarga dan Ahlul baitnya. Diantara shahifah tersebut ada yang bernama Al-Abithah. Tidak ada yang datang kepada orang Arab yang lebih berat dari pada kitab tersebut. Di dalamnya disebutkan enam puluh kabilah Arab terkemuka yang tidak memiliki sedikit pun bagian dalam agama Allah. (Lihat: Biharul Anwar, 26/37).

Riwayat-riwayat ini tidak dapat diterima dan tidak masuk akal. Karena jika terdapat sejumlah kabilah yang tidak memiliki bagian dalam agama Allah artinya tidak ada seorang muslim pun yang memiliki bagian dalam agama Allah.

Pengkhususan kabilah Arab dengan hukum yang keras ini beraromakan fanatisme kesukuan, dan penjelasannya akan disebutkan pada pembicaraan yang akan datang .

4. Shahifah Dzuabah As-Saif:

Dari Abu Bashir, dari Abdullah ‘Alaihis salam, sesungguhnya dalam Dzuabah As-Saif milik Rasulullah dan keluarganya terdapat lembaran yang kecil, di dalamnya terdapat huruf-huruf yang terbuka dari setiap hurufnya seribu huruf.

Abu Bashir berkata, Abu Abdillah berkata, “Tidak keluar darinya kecuali dua huruf hingga datangnya hari kiamat. (Lihat: Biharul Anwar, 26/56).

Saya katakan, “Dimanakah huruf-huruf yang lainnya? Mengapa tidak wajib untuk dikeluarkan sehingga para pengikut Ahlul bait dapat mengambil manfaatnya? Atau apakah huruf-huruf tersebut akan tetap tersembunyi hingga munculnya Al-Qaim?

5. Shahifah Ali:

Ini adalah shahifah lain yang terdapat dalam Dzuabah As-Saif.

Dari Abu Abdillah ‘Alaihis salam, dia berkata, “Dalam Dzuabah As-Saif Rasulullah terdapat shahifah yang di dalamnya tertulis: Bismillahirrahmanirrahim, sesungguhnya manusia yang paling durhaka kepada Allah pada hari kiamat adalah orang yang membunuh orang yang bukan pembunuhnya, memukul orang yang tidak memukul kepadanya, dan orang yang tidak mencintai walinya. Dia ingkar dengan apa yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa yang membuat perkara bid’ah atau melindungi ahli bid’ah, maka Allah tidak menerima darinya bayaran dan tebusan. (Lihat: Biharul Anwar, 27/65, dan 104/375).

6. Al-Jufr:

Terdiri dari dua macam, yaitu Al-Jufr putih dan Al-Jufr merah.

Dari Abu Al-A’la, dia berkata, saya mendengar Abu Abdillah berkata, “Sesungguhnya saya memiliki Al-Jufr putih.

Dia berkata, saya berkata, “Apakah yang terdapat di dalamnya?”

Dia berkata, “Senjata, sesungguhnya dia hanya dibukakan untuk darah yang dibukakan oleh pemiliknya untuk membunuhnya.”

Abdullah bin Abu Ya’fur berkata kepadanya, “Semoga Allah memperbaiki anda, apakah hal ini diketahui oleh keturunan Al-Hasan?

Dia berkata, “Ya, demi Allah, sebagaimana mereka mengetahui malam sebagai malam dan siang sebagai siang. Tetapi kedengkian dan ketamakan terhadap dunia mendorong mereka untuk menolak dan ingkar. Kalaulah mereka mencari kebenaran dengan cara yang benar, maka hal itu lebih baik bagi mereka.” (Ushulul Kafi, 1/24).

Saya bertanya kepada Almarhum Imam Al-Khu’i tentang Al-Jufr merah, siapakah yang membukakannya dan darah siapa yang dialirkan?

Dia berkata, “Dibukakan oleh Shohibuz Zaman (julukan Imam Mahdi) semoga Allah menyegerakan dilepaskan kesulitan darinya. Adapun darah yang ditumpahkan adalah darah orang-orang awam yang membangkang -Ahlus Sunnah- dia menyobek-nyobek mereka ke segala penjuru, menjadikan darah mereka mengalir seperti aliran sungai Tigris dan Eufrat. Dia akan menyiksa dua berhala Quraisy (Abu Bakar dan Umar), dua anaknya (Aisyah dan Hafshah), orang yang dungu (Utsman), Bani Umayyah dan Bani Abbas, lalu dia benar-benar akan membongkar kuburan mereka.”

Saya katakan, “Sesungguhnya perkataan imam Al-Khu’i sangat berlebihan. Karena Ahlul bait ‘Alaihimus salam lebih tinggi dan lebih agung dari pada harus membongkar kuburan mayit orang-orang yang telah lama meningggal.”

Sesungguhnya para imam Salamullah ‘alaihim membalas keburukan dengan kebaikan, pamaafan dan lapang dada. Maka tidak masuk akal bila mereka membongkar kuburan-kuburan untuk menyiksa para penghuninya dan menjatuhkan hudud atas mereka, karena mayit tidak dapat dijatuhi hukuman. Sementara Ahlul bait terkenal sebagai orang-orang yang suka berdamai, pemaaf dan berbuat kebaikan.

7. Mushaf Fathimah:

a. Dari Ali bin Sa’id, dari Abu Abdillah ‘Alaihis salam, dia berkata,”Kami memiliki mushaf Fathimah, di dalamnya terdapat ayat dari Kitabullah, dia didiktekan kepada Rasulullah dan keluarganya dan ditulis langsung oleh Ali dengan tangannya.” (Lihat: Biharul Anwar, 26/41).

Dari Muhammad bin Muslim dari salah seorang dari keduanya, “…. Fathimah meninggalkan sebuah mushaf yang bukan Al-Qur’an, tetapi dia merupakan firman Allah yang diturunkan kepadanya, didiktekan oleh Rasulullah dan ditulis oleh Ali.” (Al-Bihar, 26/42).

b. Dari Ali bin Abu Hamzah, dari Abu Abdillah ‘Alaihis salam, “…. Kami memiliki mushaf Fathimah ‘Alaihas salam, demi Allah, di dalamnya tidak ada satu huruf pun dari Al-Qur’an,t etapi dia didiktekan oleh Rasulullah dan ditulis oleh Ali.” (Al-Bihar, 26/48).

c. Saya katakan, “Jika kitab tersebut didiktekan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditulis oleh Ali, maka mengapa dia menyembunyikannya dari umatnya? Padahal Allah telah memerintahkan Rasul-Nya untuk menyampaikan kepada manusia semua yang apa saja yang diturunkan kepadanya. Allah Ta’ala berfirman, “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. Al-Maidah: 67).

Maka, bagaimana mungkin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan Al-Qur’an tersebut kepada semua kaum msulimin? Dan bagaimana mungkin Amirul Mukminin dan para imam sesudahnya menyembunyikannya dari para pengikutnya?

8. Taurat, Injil dan Zabur:

Dari Abu Abdillah ‘Alaihis salam, sesungguhnya dia membaca Injil, Taurat dan Zabur dalam bahasa Suryani. Lihat Al-Hujjah min Al-Kafi, 1/207, bab: Sesungguhnya para imam ‘Alaihimus salam memiliki semua kitab yang diturunkan Allah Azza wa Jalla, dan mereka mengetahui semuanya dalam bahasa yang berbeda-beda.

9. Al-Qur’an:

Al-Qur’an tidak membutuhkan dalil yang menetapkannnya, tetapi kitab-kitab para ulama kami dan pendapat para mujtahid kami menyatakan bahwa telah terjadi perubahan dalam Al-Qur’an. Hanya Al-Qur’an satu-satunya yang telah mengalami perubahan di antara kitab-kitab yang ada.

Al-Muhadits An-Nuri Ath-Thabrasi telah menghimpun semua dalil dan bukti atas terjadinya perubahan yang besar-besaran di dalam Al-Qur’an, dalam kitabnya yang dia beri nama “Fashlul Khithab fi Itsbati Tahrif Kitabi Rabbi Al-Arbab” (Pemutus dalam Menetapkan Terjadinya Perubahan dalam Kitab Tuhan segala tuhan). Dalam kitabnya dia menghimpun lebih dari seribu riwayat yang menyatakan telah terjadinya perubahan. Dia menghimpun perkataan para ahli fikih dan para ulama syiah yang menyatakan secara terus terang bahwa Al-Qur’an yang ada di tangan manusia pada hari ini telah berubah dari aslinya. Dimana ditetapkan bahwa semua para ahli fikih dan ulama syiah yang terdahulu dan sekarang sama-sama mengatakan bahwa Al-Qur’an sekarang yang ada pada tangan manusia telah diubah.

Sayid Abu Hasan Al-Amili berkata, “Saya memiliki dalil yang menunjukkan benarnya pernyataan tersebut –tentang adanya perubahan dalam Al-Qur’an– setelah meneliti semua hadits dan menelusuri semua atsar, dimana dapat ditetapkan secara pasti bahwa ini merupakan akidah yang paling penting dalam madzhab syiah, dan merupakan tujuan paling besar dari dirampasnya kekhilafahan.” (Kajian kitab Al-Burhan, pasal keempat, hal. 49).

Sayid Ni’matullah Al-Jazairi berkata dalam membantah orang yang menyatakan tidak adanya perubahan dalam Al-Qur’an, “Penerimaan atas mutawatirnya wahyu ilahi sampai kepada kita, dan bahwa semuanya diturunkan oleh Ruhul Amin menyeret kita untuk menolak kabar yang sangat masyhur yang telah ditetapkan keshahihannya oleh para pengikut kita dan diyakini kebenarannya.” (Lihat: Al-Anwar An-Nu’maniyyah, 2/357). Oleh karena itu, Abu Ja’far berkata sebagaimana dikutip oleh Jabir:

“Tidaklah seorang manusia mendakwakan bahwa dia telah menghimpun semua Al-Qur’an kecuali dia telah berdusta. Karena tidak ada yang menghimpun dan menghafal semua Al-Qur’an kecuali Ali bin Abi Thalib dan para imam sesudahnya.” (Al-Hujjah min Al-Kafi, 1/26).

Tidak dapat disangkal lagi bahwa semua ini adalah pernyataan yang terang-terangan dalam menetapkan telah terjainya perubahan dalam Al-Qur’an yang ada pada kaum muslimin hari ini.

Al-Qur’an yang hakiki adalah Al-Qur’an yang ada pada Ali dan para imam sesudahnya, hingga akhirnya ia akan berada pada Al-Qaim.

Oleh karena itu, Imam Al-Khu’i berkata dalam wasiat-wasiatnya kepada kami ketika dia menghadapi kematian, dan ketika itu kami berkedudukan sebagai para murid dan kadernya di Hauzah, “Pegang teguhlah Al-Qur’an ini hingga munculnya Qur’an Fathimah.”

Qur’an Fathimah yang dimaksud oleh Imam Al-Khu’i adalah mushaf yang dikumpulkan oleh Ali sebagaimana yang telah saya sebutkan.

Sesungguhnya perkara yang paling aneh dan mengherankan adalah bahwa semua kitab ini telah diturunkan dari sisi Allah, dan dikhususkan bagi Imam Ali dan para imam sesudahnya, tetapi semua itu tersembunyi dari umat, lebih khusus lagi tersembunyi bagi kalangan syiah (para pengikut) Ahlul bait sendiri, kecuali Al-Qur’an yang sangat sederhana yang telah dijamah oleh tangan jahat yang melakukan pengurangan dan penambahan. –Menurut pendapat para fakih kami.

Jika kitab-kitab di atas benar-benar diturunkan dari sisi Allah, benar-benar dimiliki oleh Imam Ali, maka untuk apa disembunyikan?, padahal umat sangat membutuhkannya sebagai pedoman mereka dalam kehidupan dan dalam beribadah kepada Tuhan mereka.

Kami bertanya, “Apakah Amirul Mukminin, singa (pemberani) dari kalangan Bani Hasyim menjadi seorang pengecut yang tidak mampu membela diri dari mereka?

Apakah dia menyembunyikan urusannya dan menghalangi umat untuk megetahuinya karena dia takut kepada masuh-musuhnya?

Tidak, demi Dzat yang meninggikan langit tanpa tiang, Ali bin Abi Thalib tidak pernah merasa takut kepada selain Allah. “Jika kami tanyakan: Apa yang dilakukan oleh Amirul Mukminin dan para imam sesudahnya terhadap Zabur, Taurat dan Injil, yang diputarkan dan dibaca di antara mereka dengan sembunyi-sembunyi?

Jika beberapa nash menyatakan bahwa Amirul Mukminin saja yang memiliki dan menguasai Al-Qur’an, juga menguasai kitab dan shuhuf-shuhuf, maka apa yang menyebabkannya dia membutuhkan Zabur, Taurat dan Injil? Lebih-lebih kita ketahui bahwa kitab-kitab tersebut telah dihapus bersamaan dengan diturunkannya Al-Qur’an?

Saya mencium adanya tangan-tangan jahat yang menyusupkan riwayat-riwayat di atas dan berdusta kepada umat. Penjelasan yang gamblang tentnag masalah ini akan diutarakan pada pasal khusus Insya Allah.

Kita mengetahui bahwa Islam tidak memiliki kitab selain Al-Qur’an Al-Karim. Adapun kitab yang berbilang-bilang adalah merupakan karakteristik agama Yahudi dan Nasrani sebagaimana terlihat jelas dalam kitab-kitab suci mereka.

Pernyataan bahwa Amirul Mukminin memiliki kitab yang berbilang-bilang jumlahnya, dan bahwa semua kitab tersebut berasal dari Allah, serta ia mencakup masalah-masalah syari’ah adalah perkataan batil yang disusupkan oleh orang Yahudi yang berkedok dengan nama syiah (pengikut) Ahlul bait.

Referensi: Mengapa saya keluar dari Syi’ah, Sayyid Husain Al-Musawi, hal. 97-106

[abrhn/m.a/syiahindonesia.com]

0 comments: