Breaking News
Loading...

Bandung – Ketua Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI) KH Athian Ali M. Da’i, MA, menegaskan bahwa ajaran Syiah dengan Islam tidak mungkin bisa dipertemukan. Sehingga, tidak perlu dibicarakan lagi. Hal itu ia tegaskan, ketika Syiah mulai bangkit di Bandung, sekitar 28 tahun yang lalu, pada tahun 1985.

“Tak bisa bertemu, tak bisa disatukan, jadi buat apa didiskusikan, tegasnya saat menjadi pembicara pembanding Bedah Buku ‘Zionis & Syiah Bersatu Hantam Islam’ yang digelar oleh Divisi Syakshiyyah Islamiyyah-Forum Ulama Ummat Indonesia (FUUI), di Masjid Al Fajr Jl Cijagra Raya Buah Batu Bandung, Sabtu (14/9/2013) seperti dikutip dari salam-online.com.

Pada saat itu, katanya, ada orang yang menyebarkan paham Syiah tapi menolak dikatakan sebagai penganut Syiah. Ia menolak, mengaku bukan syiah. Seiring berjalannya waktu, ketika orang ini kian gencar menyampaikan ajaran Syiahnya, maka ia pun dipanggil oleh seorang tokoh Islam di Bandung untuk dimintai keteragannya, apakah dia sudah menganut Syiah, lantas ia menjawab, “Belum.” Jawaban yang membuat jamaah Masjid Al Fajr tertawa terkekeh. Artinya, kata Athian, ia akan menjadi Syiah?

KH Athian melanjutkan kisahnya. Ketika dalam sebuah forum, orang ini menyampaikan makalahnya tentang Syiah, setelah itu ia ditanya, apakah ia Syiah? Orang ini, kata Athian, menjawab, ”Syiah saya berbeda dengan yang ada di makalah yang saya sampaikan ini…” Jamaah pun tertawa riuh. Lantas, menurut Athian, mengapa (makalah) itu disampaikan?

Dalam sebuah forum kembali yang bersangkutan didesak dengan pertanyaan, apakah penganut Syiah? Jawabnya, “Saya ini ‘Susi’, Sunah dan Syiah,” jawabnya seperti dikisahkan KH Athian yang disambut gelak hadirin.

Ia juga menyinggung kitab suci versi Syiah. Menurut KH Athian, meskipun di atas permukaan kaum Syiah masih menggunakan kitab Qur’an seperti halnya umat Islam, tetapi sejatinya itu harus disertai tafisr versi Imam mereka. Kitab suci menurut (tafsir dari Imam mereka), misalnya, versi Khomeini. Itu (tasirnya) berbeda dengan tafsir Qur’an umat Islam. Bahkan sekarang ini mereka menunggu kemunculan Imam yang mereka yakini dengan tafsir kitab suci versi mereka itu.

KH Athian mengatakan, ada orang yang masih ragu tentang kesesatan Syiah, ada pula yang memang tak tahu tentang Syiah—sekaligus tidak tahu Islam (tak bisa membedakan antara Al-Haq dengan Al-Bathil)—lalu ada juga orang yang tahu, tapi mempunyai penyakit al-wahn, yaitu hubbuddun-ya wakarahiyatul maut (cinta dunia benci mati), sehingga gagap, tak berani menyatakan yang sesat itu sesat. Tak berani menyatakan Al-Haq dan menegaskan bahwa itu bathil, karena ada kepentingan pribadi dan pragmatis, ini sangat berbahaya. “Jadi, ini susahnya kalau kita berhadapan dengan orang munafiq,” tandasnya.

Menutup paparannya, KH Athian Ali menegaskan, dalam kasus Syiah ini siapa yang paling banyak dosanya atas tersesatnya sebagian umat, ialah para ulama, jika ulama itu tidak berani menyatakan sesatnya Syiah.

“Kalau umat tersesat karena tidak mengerti, itu wajar…,” ujar alumnus Al Azhar Kairo ini. Tetapi bagaimana ulama yang tergabung dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat yang hingga kini secara resmi belum juga tegas?

KH Athian menyatakan, seluruh ulama dalam mazhab Islam, ulama Rabithah Alam Islami, Ulama Al Azhar, dan masih banyak lagi yang lainnya, termasuk ulama kontemporer, sudah mengeluarkan fatwa sesatnya Syiah, Syiah adalah di luar Islam, “Syiah bukan Islam.”. (Salam-Online)

0 comments: