Breaking News
Loading...

Jember – Bentokan antara warga dengan pendukung Pondok Pesantren Darus Sholihin yang diduga syiah bermula dari rencana kegiatan karnaval peringatan HUT Kemerdekaan RI, di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Rabu (11/9). Namun perayaan karnaval itu berujung pertumpahan darah.

Menurut KH Abdullah Syamsul Arifin, yang merupakan Wakil Ketua MUI Jember., bentrok berdarah dipicu rencana Pawai Karnaval 17 Agustus yang akan diselenggarakan oleh Ponpes Darus Sholihin pimpinan Habib Ali al Habsy. yang akrab dipanggil Gus Aab, Ponpes Darus Sholihin pimpinan Habib Ali Al-Habsyi sejak lama ditengarai menganut paham Syiah.

Karnaval itu sempat dilarang aparat pemerintah kecamatan. Ini dikarenakan ada sekelompok warga yang tidak setuju dengan karnaval keliling desa itu. Bayang-bayang perselisihan antara Sunni-Syiah tahun lalu jadi alasan.

Barikade pagar berduri dipasang di dua akses masuk ponpes oleh petugas kepolisian untuk mencegah karnaval tersebut. Pemerintah setempat hanya membolehkan karnaval di dalam ponpes.

Namun karnaval tetap diselenggarakan karena warga setempat mendesak. Kawat berduri pun disingkirkan warga dengan diwarnai aksi bentrokan. Perempuan dan laki-laki peserta karnaval melemparkan batu-batu ke arah polisi dan menyebabkan kepala Ajun Inspektur Satu Suparman bocor.

Ternyata, keinginan warga dan santri ponpes melakukan karnaval benar-benar mendapat perlawanan dari sekelompok warga lainnya. Mereka menyerang pondok pesantren yang ditinggalkan penghuninya berkarnaval.

Sebanyak 41 sepeda motor dirusak, dan tiga di antaranya dibakar. Massa yang datang dengan membawa senjata tajam merusak ponpes. Sekolah, kantor, dan masjid jadi sasaran penyerangan. (Kiblat.net)

0 comments: