Breaking News
Loading...

Berita pembakaran tempat pemondokan, yang kemudian diklaim sebagai pesantren milik Tajul Muluk, pembawa ajarah Syiah di Sampang sarat kejanggalan.

Sebelum terjadi pembakaran yang melibatkan puluhan ribu warga masyarakat di dusun Nangkernang desa Karagayam, Kecamatan Omben, Sampang, di kediaman Kiai Tajul Muluk, hari Kamis (29/12/2011) warga sebenarnya menemui banyak kejanggalan dan merasa resah.

Keresahan dan keanehan ini dirasakan mantan tokoh masyarakat setempat. Menurut Kepala Dusun Nangkernang, Ahmad Khamsah, mengatakan, Tajul sering meminjami warga uang. Ada dugaan, uang pinjaman itu sebagai cara merekrut waga agar masuk Syiah.

“Tajul Muluk sering meminjami uang kepada penduduk. Setelah itu diminta ikut mengaji,” ujarnya kepada hidayatullah.com.

Dugaan ini dibenarkan mantan pengikut Tajul, ustad Muhammad Nur (37). Menurut  pria yang pernah dua tahun ikut Tajul Muluk ini, Tajul diduga memiliki banyak dana-dana yang ditengarai berasal dari Iran.

Pria yang kini  telah telah keluar dari Syiah sejak tahun 2008 bercerita awal kegiatannya mengaji di rumah Tajul Muluk.

“Awalnya beliau (Tajul, red) mengajari saya hadits-hadits  tentang cinta Ahlul Bait. Itu dilakukan setahun pertama,” ujarnya dengan mimik serius.

“Ia juga sering mengatakan, sahabat Nabi kan manusia biasa, pasti berbuat salah,” lanjut Nur. Sepintas, menurutnya  itu masuk akal. Hari-hari berikutnya, pelajaran yang dia dapat makin meragukan.

“Setelah itu saya diajari do’a-do’a. Namun anehnya di dalamnya ada pelaknatan kepada Abu Bakar, Utsman dan Aisyah. Saya jadi mikir. Tertekan jiwa saya, mas.”

Suatu hari ketika ia di ladang mencangkul, Tajul berdiri di samping dan mendakwahkan ajaran Syiah. Ia melaknat sahabat dan mengkafirkan Sunni.

“Kyai Tajul juga mengatakan al-Qur’an sekarang telah banyak dirubah. Karena tak tahan dengan ini, Nur akhirnya keluar tanpa pamit. Namun sejak dirinya keluar dari Syiah, ia justru dijuluki dengan panggilan buruk oleh Tajul.

“Sejak saya keluar, Tajul dan pengikutnya memanggil saya dengan sebutan Mad Naari (bahasa Arab, artinya Neraka)” ujar M. Nur.

“Dulu, saya tidak berani mengkritik keanehan-keanehan ajaran Syiah yang mengajarkan doa melaknat Abu Bakar, Umar, dan Utsman,” tambahnya.

Namun kini justru sebaliknya. Nur berpendapat, jika Tajul Muluk berhenti menyebarkan ajaran Syiah yang selalu mencela tokoh-tokoh yang dihormati Sunni, maka pembakaran dan pengusiran itu tidaklah akan terjadi.

Sebelumnya telah diberitakan media ini, ada beberapa kejanggalan terjadi dalam kasus pembakaran pemondokan Tajul Muluk. Di mana penyebutan pesantren Syiah diyakini masyarakat terjadi setelah adanya pembakaran. Padahal, warga tak mengenal nama itu. Menariknya, penyebutan nama itu justru dilakukan sebuah media.

Selain itu, Bupati Sampang, Noer Cahya sebelumnya juga mengatakan, di kantor Depag dan Bakesbangpol Sampang tidak pernah tercatat adanya pesantren Syiah.* [hdy].

Berita lengkap: baca Laporan Utama Majalah Hidayatullah, edisi Maret 2012: “Syiah Berulah Umat Terbelah”. 

0 comments: