Breaking News
Loading...

Oleh: Abdul Hayyie Al-Kattani

Membaca Al-Qur’an dan peristiwa sejarah dalam Islam secara parsial dengan cara pembacaan secara utuh dan integral, sungguh dua hal yang berbeda, hasilnya pun akan berbeda pula.

Maka Kecelakaanlah bagi Orang-orang yang Shalat?

Setelah kita mengetahui bahwa maksud ‘Adalah Sahabat secara mendasar adalah “menilai diri para sahabat Nabi SAW. sebagai jalur penyampai yang bisa dipercayai bagi Al-Qur’an, hadits-hadits Nabi SAW., serta seluk beluk kehidupan Nabi SAW. selama beliau hidup, bagi generasi berikutnya.”

Dan karena itu kita sudah dapati bahwa menerima konsep ‘Adalah Sahabat merupakan suatu keharusan, secara logika maupun dalil syar’i, dalam memahami dan mendapatkan Islam yang otentik dari Nabi SAW.

Kita bahkan sudah mendapati jawaban dan konfirmasi bagi karakteristik-karakteristik sahabat yang dipaparkan oleh Ibn Abi Hatim, Ibn Atsir serta al ‘Asqallani. Meskipun semua karakteristik tersebut secara lahir tampak “wah”.

Dengan catatan bahwa teori-teori para ulama tersebut, maupun karakteristik yang mereka paparkan, tetap membuka diri bagi adanya kajian-kajian lebih jauh.

Sehingga dengan begitu, menurut hemat saya, masalah masyru’iyyat atau legalitas ‘Adalah Sahabat sudah terjawab dengan sangat memadai dan tidak lagi perlu diperdebatkan.

Kemudian tinggal sekarang, bagaimanakah kita memahami ayat-ayat Al-Qur’an serta kejadian yang menampilkan sebagian sahabat sebagai sosok yang, menurut Dr. Jalaluddin Rakhmat: ragu dalam agamanya, menentang dan membangkang perintah Rasulullah SAW., pernah meninggalkan ibadah, menyakiti Rasul SAW., lari dari medan pertempuran, mengeraskan suaranya di hadapan Rasul SAW., dan tidak membayar zakat atau perbuatan dosa lainnya?

Bagi sebagian orang, hal itu menghasilkan suatu kontradiksi tersendiri: antara perintah bagi kita untuk menghormati dan meneladani sahabat, dengan kenyataan sebagian mereka tercatat melakukan perbuatan-perbuatan dosa seperti itu.

Bagaimana ini?

Pada titik inilah, menurut saya, Dr. Jalaluddin Rakhmat tergoda dan selanjutnya terjebak metodologi “Wailul Lil Mushallin” dalam melihat para sahabat.

Apa itu metodologi “Wailul Lil Mushallin”? Secara literal ia adalah potongan dari surah Al-Ma’un ayat 4, yang bermakna: “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat …”

Secara terminologis, ia bisa dijelaskan sebagai: metodologi membaca ayat atau peristiwa secara parsial atau sepotong-sepotong untuk kemudian dijadikan landasan untuk menetapkan penilaian atas keseluruhan.

Cara membaca dan memandang seperti itu menurut saya sangat tidak tepat dan bisa berakibat fatal. Ia akan mengantarkan kita pada pembentukan gambaran-gambaran yang buruk tentang peristiwa-peristiwa maupun tokoh-tokoh agung seperti para Nabi sekalipun.

Misalnya, ketika kita ingin mengetahui gambaran Nabi Adam dan Hawa dengan hanya berdasarkan pada ayat berikut:

“Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan..” (Qs. Al-Baqarah 2:36).

Maka kita akan menilai Nabi Adam dan Hawa sebagai dua sosok yang hina dan dibenci serta dicampakkan oleh Allah SWT.

Ketika kita membaca kisah Nabi Musa a.s hanya berdasarkan potongan ayat:

” Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).” (Qs. Al Qashash 28: 15)

Ini akan mengantarkan kita kepada kesimpulan bahwa Nabi Musa a.s adalah seorang bengis, pembunuh, dan berperangai sangat buruk.

Ketika kita membaca kisah Nabi Yunus a.s hanya dengan melihat ayat ini:

“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).” (Qs. Al-Qalam 68: 48)

Kita akan menangkap kesan Nabi Yunus a.s yang disinggung sebagai “orang yang berada dalam perut ikan” dalam ayat tersebut sebagai orang yang tidak layak diteladani, tempramental dan seorang yang dimurkai oleh Allah SWT.

Ketika kita membaca kisah Nabi Yusuf a.s hanya dengan melihat potongan ayat:

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu”. (Qs. Yusuf 12:24) Niscaya akan terbentuk dalam otak kita pikiran-pikiran “ngeres” tentang Nabi Yusuf a.s.

Ketika kita membaca sejarah Nabi Muhammad SAW. hanya berdasarkan ayat:

“Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. Al Anfaal 8:67). Kita akan menangkap kesan Nabi Muhammad SAW sebagai sosok Nabi yang telah melakukan perbuatan yang tidak patut, senang dunia dan tidak senang akhirat.

Menurut saya, metodologi membaca Al-Qur’an seperti ini sangat berbahaya dan mengantarkan kita kepada kesimpulan yang jauh sekali dari kebenaran.

Demikian juga halnya jika kita menggunakan metodologi itu dalam membaca sejarah para sahabat dan kejadian-kejadian yang pernah mereka lewati bersama Rasulullah SAW.

Saya bisa pastikan tidak ada seorang pun sahabat yang selamat dari kecaman jika kita menggunakan metodologi itu. Termasuk Ali bin Abi Thalib r.a. dan Fathimah r.a.

Jika para Nabi yang mulia, bahkan malaikat sekali pun, tidak bisa selamat dari kecaman jika kita menggunakan metodologi tadi, maka bagaimana mungkin sahabat bisa selamat?

Lantas bagaimanakah metodologi yang tepat untuk membaca Al-Qur’an, sejarah para sahabat dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan?

Membaca Al-Qur’an dan Peristiwa Sejarah Secara Utuh dan Integral.

Seorang pembaca artikel saya ini di Facebook, bernama Islisyah Asman, ketika mendapati saya berhenti di sini cukup lama, tanpa segera menjelaskan contoh-contoh pemotongan ayat di atas, langsung teriak: “Ustazh, bahasan di atas sepertinya menggantung ceritanya. Beri saja penjelasan atas semua pertanyaan yang ada pada tulisan itu. Saya khawatir apabila tulisan itu dibaca oleh orang awam, kasihan, mereka tidak dapat menangkap dengan mudah maksud yang terkandung di dalamnya. Maaf, ini saran saya. Mudah-mudahan bisa diterima.”

Begitulah, hati yang beriman dan akal yang sehat tidak menerima jika kita hanya berhenti pada potongan-potongan tersebut, ketika kita berbicara tentang orang-orang agung dalam sejarah.
 Dan di situlah bahayanya jika kita menggunakan secara sepotong-sepotong ayat Al-Qur’an maupun peristiwa-peristiwa dalam sejarah Islam tanpa memperhatikan runtutan penjelasan ayat maupun kisah tersebut secara utuh dalam Al-Qur’an.

Maka metodologi yang benar dalam memahami ayat-ayat Al-Qur’an maupun peristiwa dalam sejarah Islam adalah dengan membaca kisah itu secara keseluruhan. Tidak hanya sebagian. Untuk kemudian memahamai fragment-fragment yang pernah terjadi yang tampak “tidak bagus” dalam bingkai pemahaman global tersebut.

Dengan cara tersebut, maka kita tidak lagi terjebak dengan metodologi “Wailul Lil Mushallin” atau “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat …”, karena kita tahu bahwa runtunan lengkap ayat-ayat tersebut adalah:

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (Qs. Al Ma’uun 107: 4-7).

Dari bacaan atas ayat-ayat secara lengkap itulah kita segera tahu bahwa orang yang celaka itu adalah orang-orang lalai ketika shalat, berlaku riya dan tidak mau memberikan pertolongan kepada orang lain.

Bandingkan hal itu dengan pemahaman yang kita dapatkan hanya dari potongan ayat tadi. Tentu jauh sekali.

Demikian juga dengan kisah Nabi Adam dan Sitti Hawa. Ketika kita membaca kisah tersebut secara lebih utuh, justru kita menemukan bahwa Nabi Adam dan Sitti Hawa setelah mengalami ketergelinciran dan keterusiran dari surga, keduanya malah mendapatkan anugerah berupa ampunan dan kasih sayang Allah SWT..

Bacalah ayat 36 surah Al Baqarah ini setelah saya lengkapi lanjutan ayatnya dengan ayat no 37:

“Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. “ (Qs. Al-Baqarah 2:36-37).

Gambaran kita yang negatif tentang Nabi Musa a.s ketika kita hanya membaca ayat dari surah Al Qashash 28: 15, akan segera berubah menjadi positif ketika kita membaca penuturan Al-Qur’an tentang Nabi Musa a.s secara utuh. Dan saat kita melanjutkan bacaan kita atas surah Al Qashash 28: 15 dengan ayat no 16 dan 17, kita dapati bahwa Nabi Musa a.s telah meminta ampunan kepada Allah SWT. atas tindakannya yang tidak disengaja itu. Dan Allah SWT. pun mengampuninya.

Kita baca:

“Musa mendoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku”. Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerah-kan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa”. (Qs. Al-Qashash 28: 16-17).

Ketika kita membaca kisah Nabi Yunus ‘Alaihis salam, setelah membaca surah Al-Qalam 68: 48:

“Maka bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdoa sedang ia dalam keadaan marah (kepada kaumnya).” (Qs. Al-Qalam 68: 48).

Dan kita lanjutkan dengan surat Al-Qalam 68: 49-50. Gambaran negatif kita tentang Nabi Yunus a.s segera tergantikan dengan kekaguman. Karena ternyata setelah itu Allah SWT memberikannya ni’mat dan memilihnya serta menjadikannya sebagai orang saleh. Mari kita baca:

“Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh.” (Qs. Al-Qalam 68: 49-50).

Pikiran ngeres kita tentang Nabi Yusuf a.s, yang timbul ketika kita hanya membaca potongan ayat:

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu”. (Qs. Yusuf 12: 24).

Akan tergantikan dengan kekaguman dan hormat kita kepadanya, ketika kita membaca ayat surah Yusuf 12:24 secara lengkap. Karena dalam ayat yang lengkap itu kita dapati ternyata Allah SWT. selalu menjaganya dari perbuatan-perbuatan nista, dan menjadi makhluk Allah yang terpilih. Mari kita baca ayat tersebut:

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Qs. Yusuf 12: 24).

Dan gambaran kita yang tampak buram saat membaca sejarah Nabi SAW. hanya melalui potongan ayat ini:

“Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. Al Anfaal 8: 67).

Akan segera berubah cemerlang ketika kita membaca dan menelusuri surah dan ayat-ayat dalam Al-Qur`an secara utuh yang menceritakan beliau. Akan terbentuk gambaran sosok yang agung nan mulia yang selalu mendapatkan bimbingan, teguran dan petunjuk dari Allah SWT. Segala gerak-gerik beliau selalu berada dalam pengawasan Allah SWT. Dan ucapan-ucapan yang keluar dari mulut beliau adalah kebenaran semata. Sesuai firman Allah SWT: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quraan) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.” (Qs. An Najm 53: 3-5).

Dan teguran dalam surah Al-Anfaal: 67 itu merupakan bagian dari proses turunnya aturan-aturan Syari’ah dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Dan itu menjadi rahmat serta kemudahan bagi umat beliau. Mari kita baca lanjutan ayat Al-Anfaal 8: 67 tersebut dengan ayat Al-Anfaal 8: 68-69:

“Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Anfaal 8: 68-69).

Demikianlah, kita bisa saksikan dan rasakan, jauhnya perbedaan antara membaca Al-Qur’an dan peristiwa sejarah dalam Islam secara parsial dengan cara pembacaan secara utuh dan integral. [nosra.islammemo/syiahindonesia.com].

0 comments: